Kisah Nabi Ayyub, Kesabaran Menghadapi Ujian Hingga Mukjizat Kesembuhannya
Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa Nabi Ayyub berasal dari bangsa Romawi dengan silsilah yang bersambung hingga Nabi Ishaq bin Ibrahim al-Khalil. Ibnu 'Asakir juga menuturkan sebuah riwayat bahwa ibunda beliau merupakan putri dari Nabi Luth 'alaihis salam.
Pendapat yang paling kuat menyatakan bahwa beliau adalah keturunan langsung Nabi Ibrahim, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an saat membahas garis keturunan para nabi. Allah secara jelas menyebutkan nama Ayyub sebagai salah satu nabi yang menerima wahyu suci-Nya.
"Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub, dan anak cucunya, 'Isa, Ayyub..." (QS. An-Nisa': 163)
Masa Kejayaan dan Ujian Harta Serta Keluarga
Nabi Ayyub dikenal sebagai sosok yang memiliki kekayaan melimpah ruah, mulai dari ribuan ternak, budak, hingga tanah pertanian yang sangat luas. Beliau menetap di negeri Bathinah, daerah Hawran, dan dikaruniai keluarga serta anak-anak yang banyak.
Namun, Allah kemudian menguji hamba-Nya yang mulia ini dengan mengambil kembali seluruh harta benda dan mewafatkan semua anak-anaknya. Kehilangan yang begitu besar ini merupakan awal dari rangkaian ujian panjang yang akan beliau hadapi dengan penuh ketabahan.
Ujian Penyakit dan Pengasingan
Setelah kehilangan harta dan anak, Nabi Ayyub diuji pada tubuhnya dengan berbagai jenis penyakit yang sangat berat selama bertahun-tahun. Seluruh anggota tubuh beliau mengalami sakit yang parah, kecuali hati dan lisan yang terus beliau gunakan untuk berzikir.
Kondisi fisik yang memprihatinkan membuat teman dan kerabat menjauh karena merasa jijik hingga beliau akhirnya diusir dari pemukiman. Beliau terpaksa tinggal di tempat pengasingan di luar kota, jauh dari keramaian manusia yang dahulu menghormatinya.
Meskipun dunia menjauhinya, sang istri tetap setia mendampingi dan mengurus segala keperluan Nabi Ayyub dengan penuh kasih sayang. Sang istri bahkan rela bekerja sebagai buruh kasar demi mencukupi kebutuhan makan dan pengobatan suaminya.
Kesabaran yang Tiada Bandingnya
Dalam hadis sahih disebutkan bahwa para nabi adalah kelompok manusia yang menerima ujian paling berat di antara manusia lainnya. Cobaan yang menimpa Nabi Ayyub tidak sedikit pun mengurangi rasa syukur dan pengharapannya akan pahala dari Allah.
"Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian orang-orang yang setingkat di bawahnya. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya." (HR. Ahmad)
Nabi Ayyub tetap bertahan dalam kesabaran meskipun daging di tubuhnya mulai berjatuhan dan hanya menyisakan tulang serta urat. Beliau merasa malu untuk mengeluh karena merasa masa sehat yang diberikan Allah jauh lebih lama dibandingkan masa ujiannya.
Puncak Ujian dan Pengorbanan Sang Istri
Ujian bagi Nabi Ayyub mencapai puncaknya ketika masyarakat mulai menolak mempekerjakan istrinya karena takut tertular penyakit yang diderita suaminya. Dalam keadaan terjepit dan tidak memiliki makanan, sang istri terpaksa menjual salah satu kepang rambutnya kepada seorang gadis bangsawan.
Keesokan harinya, karena tidak ada pilihan lain untuk mendapatkan makanan, ia kembali menjual kepang rambutnya yang terakhir. Ketika Nabi Ayyub melihat kepala istrinya gundul, beliau merasa sangat terpukul dan akhirnya memanjatkan doa yang sangat tulus kepada Allah.
"Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang." (QS. Al-Anbiya: 83)
Doa yang Menggetarkan Langit
Diriwayatkan pula bahwa Nabi Ayyub merasa sangat gelisah ketika mendengar dua orang saudaranya mengira beliau telah melakukan dosa besar hingga tidak dirahmati Allah. Beliau kemudian bersujud dan bersumpah tidak akan mengangkat kepalanya sampai Allah menghilangkan cobaan tersebut.
Beliau memohon kebenaran dari Allah atas pengabdiannya yang selama ini selalu peduli kepada orang lapar dan orang yang tidak memiliki pakaian. Allah pun membenarkan ucapan beliau melalui suara dari langit yang didengar langsung oleh para saudaranya.
Mukjizat Kesembuhan dan Mandi Air Surga
Allah segera mengabulkan doa hamba-Nya yang sabar tersebut dengan mewahyukan agar beliau menghantamkan kakinya ke tanah. Dari bekas hentakan kaki itu, memancarlah mata air yang sejuk untuk digunakan mandi dan minum sebagai obat bagi tubuhnya.
"Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum." (QS. Shad: 42)
Seketika itu juga, seluruh penyakit yang ada pada tubuh lahir maupun batin beliau lenyap tanpa bekas, dan ketampanan beliau kembali seperti sedia kala. Istri beliau yang datang menyusul sempat tidak mengenali suaminya karena perubahan fisik yang kembali bugar dan bercahaya.
Kembalinya Nikmat dan Hujan Emas
Setelah kesembuhan itu, Allah melimpahkan kembali kekayaan yang berlipat ganda sebagai rahmat dan imbalan atas kesabarannya. Allah mengirimkan dua awan yang menuangkan emas ke dalam lumbung gandum dan perak ke dalam lumbung jewawut milik Nabi Ayyub.
Bahkan dalam sebuah hadis dikisahkan bahwa ketika beliau sedang mandi, Allah menurunkan belalang-belalang emas yang sangat banyak. Nabi Ayyub segera mengumpulkannya ke dalam pakaian beliau sebagai bentuk syukur atas berkah dan rahmat yang melimpah dari Tuhannya.
Keluarga beliau pun dikembalikan oleh Allah, di mana sang istri kembali muda dan melahirkan dua puluh enam anak laki-laki. Semua nikmat ini menjadi pelajaran bagi seluruh hamba Allah bahwa kesabaran akan selalu berbuah manis di dunia dan akhirat.
Penyelesaian Sumpah dan Wafatnya Sang Nabi
Terkait sumpah Nabi Ayyub yang ingin memukul istrinya sebanyak seratus kali, Allah memberikan keringanan yang sangat bijaksana. Beliau diperintahkan mengambil seikat rumput yang terdiri dari seratus batang, lalu memukulkannya sekali saja kepada istrinya.
Dengan cara ini, sumpah beliau terpenuhi tanpa harus menyakiti istrinya yang telah sangat setia berbakti selama masa-masa sulit. Allah memuji beliau sebagai sebaik-baik hamba yang sangat taat dan memiliki tingkat kesabaran yang luar biasa.
"Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah)." (QS. Shad: 44)
Nabi Ayyub wafat pada usia sembilan puluh tiga tahun setelah menghabiskan sisa hidupnya dalam kemuliaan dan ketaatan. Tugas kenabian kemudian dilanjutkan oleh putranya yang bernama Basyar, yang oleh banyak orang diyakini sebagai Nabi Dzul Kifl.