Sejarah Masjid Nabawi, Dari Tiang Kurma Hingga Kemegahan Arsitektur Modern
Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang menjadi tujuan ziarah atau rihal dalam Islam setelah Masjidilharam. Letaknya berada di sebelah timur Kota Madinah Al-Munawwarah dan memiliki peran yang sangat sentral dalam sejarah peradaban Islam.
Masjid ini didirikan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam atas dasar ketakwaan sejak hari pertama pembangunannya. Ia berfungsi sebagai mercusuar yang menerangi jalan umat manusia serta menjadi sekolah tempat dididiknya generasi terbaik sepanjang sejarah.
"Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan salat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih." (QS. At-Taubah: 108)
Salat di Masjid Nabawi memiliki pahala yang sangat besar dibandingkan dengan masjid-masjid lainnya di dunia. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda bahwa salat di masjid beliau ini lebih utama daripada seribu salat di masjid lain, kecuali Masjidilharam.
Beliau juga menyebutkan bahwa area di antara rumah dan mimbarnya adalah salah satu taman dari taman-taman surga. Kedudukan agung inilah yang membuat jutaan umat Muslim rindu untuk bersujud dan berziarah ke sana.
Sejarah Singkat Pembangunan Masjid
Perjalanan pembangunan masjid ini dimulai ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tiba di Madinah setelah hijrah dari Mekah. Awalnya beliau singgah untuk meletakkan fondasi Masjid Quba sebelum melanjutkan perjalanan ke jantung kota Madinah.
Saat tiba di Madinah, unta yang ditunggangi beliau berhenti di sebuah tempat penjemuran kurma milik dua anak yatim dari kalangan Anshar. Nabi kemudian bersabda bahwa tempat itulah yang akan menjadi lokasi pembangunan masjidnya, insya Allah.
Rasulullah menolak menerima tanah tersebut secara gratis dan memilih untuk membelinya seharga sepuluh dinar. Beliau kemudian ikut terjun langsung bekerja membangun masjid tersebut dengan menggali tanah dan mengangkut batu bersama para sahabat.
Pada masa awal, luas masjid hanya sekitar 1.600 meter persegi dengan lantai dari pasir dan atap dari pelepah kurma. Tiang-tiangnya terbuat dari batang pohon kurma, sementara dindingnya disusun dari batu dan bata lumpur yang sangat sederhana.
Arah kiblat pada awalnya menghadap ke Baitulmaqdis selama sekitar enam belas bulan sebelum akhirnya dipindahkan ke Ka'bah. Perpindahan kiblat ini terjadi atas perintah Allah, kira-kira dua bulan sebelum pecahnya Perang Badar.
Nabi juga menyiapkan tempat teduh di bagian belakang masjid yang dikenal dengan nama As-Suffah. Tempat ini dikhususkan bagi para musafir dan fakir miskin yang kemudian dikenal dalam sejarah sebagai Ahlus Suffah.
Perluasan dan Renovasi dari Masa ke Masa
Masa Khulafaur Rasyidin
Pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, hanya dilakukan perbaikan kecil untuk mengganti tiang-tiang yang mulai lapuk. Hal ini dikarenakan masa kekhalifahan yang singkat serta kesibukan dalam menghadapi Perang Riddah.
Perluasan signifikan baru terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab yang menambah luas masjid hingga mendekati 6.400 meter persegi. Beliau berpesan agar bangunan masjid tetap sederhana dan tidak dicat dengan warna yang dapat mengganggu kekhusyukan jamaah.
Khalifah Utsman bin Affan kemudian melanjutkan perluasan tersebut hingga mencapai luas 8.000 meter persegi. Beliau mulai menggunakan batu pahat untuk dinding dan melapisi atapnya dengan kayu saj agar lebih tahan lama.
Masa Umayyah dan Abbasiyah
Pada masa Dinasti Umayyah, Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik melakukan pembangunan ulang dengan material yang lebih mewah seperti mosaik dan marmer. Untuk pertama kalinya, kamar-kamar istri Nabi dimasukkan ke dalam kompleks bangunan masjid yang diperluas.
Era Abbasiyah juga melanjutkan pemeliharaan dengan melakukan renovasi serta menambahkan kaligrafi ayat-ayat Al-Qur'an pada dinding masjid. Namun, pada tahun 654 H, terjadi kebakaran besar akibat kelalaian penjaga yang memaksa dilakukan pemugaran total oleh Khalifah Al-Mu'tashim.
Masa Kesultanan Utsmaniyah
Renovasi yang dianggap paling indah dan teliti dilakukan pada masa Sultan Abdul Majid dari Kekaisaran Utsmaniyah. Pekerjaan ini berlangsung selama tiga belas tahun dan menghasilkan pilar-pilar yang dihiasi lukisan serta ornamen berlapis emas.
Pilar di sekitar mihrab dilapisi marmer mewah, sementara lampu-lampu kristal digantungkan pada rantai emas dan perak. Keindahan arsitektur masa ini masih tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan sejarah Masjid Nabawi.
Perluasan Besar di Era Saudi
Di era modern, Masjid Nabawi mengalami transformasi yang sangat masif di bawah pemerintahan Kerajaan Saudi. Dimulai dari masa Raja Abdul Aziz, pembangunan ini terus berlanjut hingga puncaknya pada masa Raja Fahd bin Abdul Aziz.
Raja Abdul Aziz menambahkan lima pintu baru, termasuk Bab Al-Malik dan Bab Al-Majidi, sehingga total pintu masjid menjadi sepuluh. Perluasan ini dilakukan dengan tetap menjaga keaslian arsitektur dari masa Sultan Abdul Majid sebelumnya.
Perluasan di bawah Raja Fahd merupakan yang terbesar sepanjang sejarah karena melipatgandakan luas masjid berkali-kali lipat. Dibangun tujuh pintu utama baru serta penerapan teknologi modern untuk sistem pendingin udara dan kelistrikan.
Saat ini, kapasitas masjid beserta pelatarannya dapat menampung hingga satu juta jamaah pada musim haji dan umrah. Lantainya kini dilapisi marmer mewah dengan pola geometris Islami yang memperindah seluruh area masjid.
Ikon Suci dan Detail Arsitektur Masjid Nabawi
Al-Hujrah An-Nabawiyyah (Kamar Nabi)
Kamar Nabi terletak di sudut tenggara masjid dan dikelilingi oleh pagar kuningan yang disebut maqshurah setinggi enam meter. Di dalamnya terdapat makam Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhuma.
Bangunan di dalam kamar ini berbentuk segi lima dengan fondasi sangat dalam yang dituangi timah untuk mencegah upaya penggalian atau penembusan. Kamar suci ini dikelilingi oleh empat pilar besar yang menyangga struktur ikonik Kubah Hijau.
Tidak jauh dari sana, terdapat area yang dikenal sebagai Ar-Raudhah Asy-Syarifah atau taman surga yang terletak di antara mimbar dan makam Nabi. Area seluas 22 x 15 meter ini menjadi tempat yang paling diburu jamaah untuk berdoa dan bermunajat.
Sejarah Mimbar Rasulullah
Awalnya, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkhotbah dengan berdiri bersandar pada sebuah batang pohon kurma yang sederhana. Namun, pada tahun ke-8 atau 9 Hijriah, seorang sahabat membuatkan mimbar kayu bertangga agar suara beliau lebih terdengar luas.
Kisah mengharukan terjadi saat batang kurma tersebut merintih layaknya unta yang kehilangan anaknya ketika Nabi mulai beralih menggunakan mimbar baru. Nabi kemudian menenangkan batang tersebut dengan menepuknya hingga rintihan tersebut berhenti sepenuhnya.
Sepanjang sejarah, mimbar ini terus mengalami pembaharuan dan penambahan jumlah anak tangga oleh para khalifah. Mimbar marmer indah yang digunakan saat ini merupakan kiriman dari Sultan Murad Khan dari Kesultanan Utsmaniyah pada tahun 998 Hijriah.
Evolusi Menara Masjid
Pada masa awal Islam, Masjid Nabawi belum memiliki menara dan Bilal radhiyallahu 'anhu mengumandangkan azan dari atap rumah penduduk terdekat. Al-Walid bin Abdul Malik adalah penguasa pertama yang memperkenalkan pembangunan empat menara di setiap sudut masjid.
Perluasan besar-besaran di era Saudi menambahkan enam menara baru yang menjulang setinggi 99 meter ke angkasa. Dengan tambahan ornamen bulan sabit, tinggi total menara mencapai 105 meter, menjadikannya salah satu ciri khas pemandangan kota Madinah.
As-Suffah: Tempat Tinggal Ahlus Suffah
Area As-Suffah merupakan tempat teduh di bagian belakang masjid yang diperuntukkan bagi para Muhajirin yang tidak memiliki rumah. Mereka tinggal di dalam masjid sambil menunggu mendapatkan pekerjaan, dan jumlahnya pernah mencapai sekitar 600 orang.
Para penghuninya dikenal sebagai Ahlus Suffah, di mana salah satu sahabat yang paling terkenal dari kalangan ini adalah Abu Hurairah. Nabi sering kali duduk bersama dan membagikan makanan kepada mereka sebagai bentuk kasih sayang dan solidaritas.
Pusat Pendidikan dan Perpustakaan
Masjid Nabawi telah lama berfungsi sebagai pusat intelektual dunia Islam dengan koleksi perpustakaan yang berkembang pesat sejak masa Mamluk. Pada akhir era Utsmaniyah, tercatat ada 88 perpustakaan, termasuk Perpustakaan Arif Hikmat yang menyimpan manuskrip sangat berharga.
Sejarah mencatat ribuan ulama dari berbagai belahan dunia datang ke Madinah untuk bermuqim atau tinggal lama demi menuntut ilmu. Mereka membuka berbagai halaqah ilmu yang dapat diikuti oleh siapa saja tanpa dipungut biaya sedikit pun.
Selain tingkat tinggi, terdapat pula kuttab atau sekolah dasar tradisional yang mengajarkan Al-Qur'an dan dasar-dasar hadis kepada anak-anak. Sebagian dari sekolah ini berada di dalam area masjid dengan pengajar yang digaji langsung oleh negara.
Hingga detik ini, tradisi pengajaran tetap berlangsung di bawah bimbingan ulama-ulama besar di bidang fikih, tafsir, dan ilmu agama. Masjid Nabawi tetap menjadi sekolah kehidupan yang terus mencetak generasi Muslim yang berilmu dan berakhlak mulia.